Inflasi Kepri Bisa Ditekan pada 2018

Inflasi Kepri Bisa Ditekan pada 2018
Tanjungpinang ibukota Provinsi Kepri. Pada 2018, ekonomi Kepri diprediksi tumbuh pada kisaran 4,2 s.d 4,6 persen. (net)

Batam (netrakepri.com) – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Kepri optimistis mampu menekan inflasi pada 2018, hingga kisaran 3,5 persen, plus minus 1 persen (yoy), atau lebih rendah dari inflasi 2017 pada kisaran 4 persen, plus minus 1 persen.

“Prospek inflasi Kepri 2018 diperkirakan membaik pada rentang sasaran 3,5 persen plus minus 1 persen (yoy),” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, Kamis (21/12/2017).

Dilansir antarakepri.com, Kamis (21/12/2017), Gusti yakin, pengendalian inflasi di Kepri bisa diwujudkan, berkat kerja sama yang baik di Tim Pengendali Inflasi Daerah tiap kabupaten kota.

“Prestasi pengendalian infasi secara nyata diwujudkan TPID Kota Tanjungpiang dengan berhasil menjadi TPID kabupaten kota terbaik se-Sumatera pada 2017,” kata Gusti.

Namun, tantangan pengendalian inflasi pada 2018 harus diwaspadai, seiring dengan perkiraan perbaikan ekonomi Kepri, utamanya peningkatan daya beli dan pendapatan masyarakat yang mendorong tingkat konsumsi.

Peningkatan itu dikhawatirkan mendorong laju inflasi kelompok inti dan kelompok volatile foods.

Selain itu, kelompok administered price diperkirakan naik seiring dengan rencana pemerintah untuk menaikan cukai rokok pada 2018.

“Namun kami meyakini sasaran inflasi 3,5 persen plus minus 1 persen terap dapat tercapai,” kata Gusti.

Sementara itu, terkait pertumbuhan ekonomi Kepri pada 2018, dia mengatakan, BI memprediksi pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kepri mencapai 4,2 persen hingga 4,6 persen atau menguat dibanding 2017 yang hanya pada kisaran 2 persen.

“Kami memperkirakan perekonomian Kepri 2018 akan tumbuh pada kisaran 4,2 persen hingga 4,6 persen,” ucap Gusti seraya menambahkan, angka itu bisa diperoleh jika semua program pemerintah di daerah bisa dilaksanakan dengan baik.

Bahkan Gusti optimis, prediksi itu bisa terlampaui bila seluruh program pemerintah berjalan dan didukung kolaborasi berbagai pihak.

“Apalagi sekarang sudah ada Wagub Kepri, ini jadi darah segar bagi kita,” kata dia.

Menurut Gusti, perbaikan ekonomi global akan mendorong permintaan produk ekspor non migas Kepri dengan negara tujuan utama Singapura, AS, Tiongkok dan Jepang.

Sejalan dengan perkiraan pemulihan ekonomi global 2018, harga komoditas diperkirakan meningkat didorong penaikan permintaan global. Perbaikan harga migas diperkirakan mendorong ekspor migas Kepri.

Kemudian, pertumbuhan ekonomi di Kepri juga diharapkan tumbuh dari realisasi usulan proyek strategis seperti pembangunan Jembatan Batam-Bintan, pengembangan Pelabuhan Batuampar, pengembangan dan modernisasi Bandara Hang Nadim, Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Sauh, Pulau Asam, Galang Batang, juga KEK industri perikanan di Natuna.

Dalam kesempatan itu, Gusti memperkirakan pada 2018 pertumbuhan investasi meningkat, terutama bangunan, didukung program Pemko Batam untuk mendorong perekonomian dengan fokus utama di sektor pariwisata dan pengembangan pulau terluar.

“Selain itu, potensi pariwisata perlu terus ditingkatkan terutama sektor bahari, belanja dan ‘leisure’,” kata dia.

Pemulihan sektor utama yaitu pengolahan, juga ditopang restrukturisasi industri, misalnya menggabungkan perusahaan galangan kapal skala kecil agar lebih efisien dan memiliki kapasitas lebih baik untuk memenuhi permintaan, termasuk proses perbaikan kapal. (ant)

Most view article

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply