by

Menggiatkan Gerakan Literasi Sekolah

Oleh: Brigitta Aisin Uba Arakian
(Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)

Tidak terasa, sudah dua pekan kita menjalani tahun 2019. Dan, rata-rata sekolah juga sudah melakukan aktifitas belajar mengajar. Berada dalam suasana tahun baru, tentu banyak harapan yang diminta dan salah satunya yang berkaitan dengan bidang pendidikan.

Sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, penulis berharap banyak ada perubahan ke arah yang lebih baik pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang merata, sarana dan prasarana yang memadai, serta guru-guru yang mumpumi. Sebagai orang awam, salah satu hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk membantu menunjang pendidikan Indonesia adalah dengan literasi.

Menurut The Most Littered Nation in the World, literasi di Indonesia berada diurutan 60 dari 61 negara di dunia. Hal ini menunjukkan jika minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Salah satu upaya yang sudah dan sedang diupayakan yaitu Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan Literasi Sekolah merupakan suatu program untuk menumbuhkan budaya membaca dan menulis siswa, yang diwujudkan dengan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai.

Salah satu sekolah yang sudah menggiatkan GLS adalah SMA Santa Maria Yogyakarta. Hal itu sangat penulis rasakan ketika melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) selama kurang lebih tiga bulan. Sebagai salah satu sekolah khusus perempuan di Yogyakarta, Stama (sebutan khusus untuk SMA Santa Maria Yogyakarta) mewajibkan setiap siswinya membaca buku kesukaan mereka. Jenis buku yang dibaca bebas, bisa novel, biografi atau buku-buku nonfiksi lainnya. Tak hanya membaca, para siswi juga diminta untuk menulis hasil bacaan setiap harinya di sebuah buku khusus. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan keterampilan menulis para siswi.

Untuk menunjang GLS, setiap kelas di Stama memiliki perpustakaan kelas. Perpustakaan kelas adalah sebuah rak khusus untuk meletakkan buku-buku bacaan dan buku ringaksan para siswi. Dengan adanya perpustakaan kelas ini, tidak ada alasan bagi siswi untuk tidak melaksanakan literasi. Sebab, bahan bacaan dan buku ringkasan sudah tersedia. Selain para siswi, para guru dan karyawan juga turut melaksakan GLS. Setiap Sabtu, seluruh warga sekolah mengumpulkan buku ringkasannya agar dapat diperiksa oleh Kepala Sekolah. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat sejauh mana perkembangan literasi warga sekolah.

Sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia (PBSI), penulis juga berharap, gerakan literasi yang sudah digalakkan diberbagai sekolah, mampu menambah wawasan siswa tentang bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Gerakan literasi memang sudah mulai dilakukan, tapi harapan kedepannya tetap lebih baik dan lebih maju dari sebelumnya. ***

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed