by

Tubuh Gemuk Miliki Manfaat Kesehatan

Selama ini banyak yang beranggapan, memiliki tubuh gemuk tidak baik. Padahal, beberapa penelitian justru menemukan orang bertubuh gemuk memiliki manfaat kesehatan yang tersembunyi, dan sama sekali tak terduga.

Ada empat manfaat tidak terduga pada mereka yang bertubuh gemuk, sebagaimana dikutip dari Telegraph.co.uk pada Senin (4/3/2019).

Pertama, menjauhkan dari risiko sendi rematik.

Saat ini, banyak orang meyakini bahwa semakin tinggi Indeks Massa Tubuh (BMI) berpeluang menyebabkan nyeri sendi yang parah.

Namun, anehnya, penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Rheumatology, mengidentifikasikan bahwa nyeri sendi yang parah cenderung terjadi pada wanita bertubuh gemuk, dibadingkan pria dengan kondisi tubuh serupa.

Profesor Carl Turesson dari Fakultas Kedokteran Lund University di Swedia, mensurvei 383 pasien, dan menemukan dari data yang dikumpulkan bahwa pria yang kelebihan berat badan dan obesitas 63 persen lebih lambat untuk mengalami gangguan muskuloskeletal.

Studi ini menemukan hubungan antara pembacaan BMI tinggi dan kelebihan hormon spesifik; di mana jalur metabolisme yang terkait dengan jaringan adiposa menciptakan penghalang pelindung terhadap timbulnya kondisi radang sendi.

Kedua, tubuh gemuk sulit terkena demensia.

Sebelumnya, banyak anggapan bahwa kelebihan berat badan dianggap memperbesar peluang seseorang terkena demensia. Namun, rilis sebuah studi pada 2015 mengubah sumsi ini, di mana justru kondisi terkait tetap bisa mendorong tubuh melawan gejala kepikunan.

Diterbitkan oleh jurnal The Lancet Diabetes & Endocrinology, penelitian ini dilakukan pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan para ilmuwan di balik penelitian tersebut tetap yakin akan validitas hasil mereka.

“Hasil kami harus membuka jalan baru dalam penelitian untuk faktor pelindung demensia,” kata ketua peneliti Dr Nawab Qizilbash.

“Hasil penelitian dapat digunakan untuk memberikan wawasan dalam mencari mekanisme dan mengembangkan perawatan baru bagi penyakit demensia. Selain itu, dokter, ilmuwan kesehatan masyarakat dan pembuat kebijakan mungkin perlu memikirkan kembali bagaimana mengidentifikasi siapa yang berisiko tinggi untuk demensia,” lanjutnya.

Jelas jika seseorang kelebihan berat badan yang tidak wajar, maka dia cenderung mencapai usia onset rata-rata yang lebih kecil.

Tetapi jika mendapat sedikit keberuntungan metaforis berupa bebas dari stroke, maka seseorang diprediksi akan 25 persen lebih kecil untuk menghadapi gejala demensia di usia senja.

Ketiga, sistem kekebalan yang lebih kuat.

Sekelompok ahli sitologi di Chicago, Amerika Serikat, mengatakan bahwa lapisan dalam lemak di sekitar organ individu yang gemuk (disebut lemak omentum) dapat berinteraksi pada tingkat sel dengan sistem kekebalan tubuh.

Proses tersebut membantu dalam pengaturan respon sistem kekebalan tubuh, di mana lemak ini pada dasarnya menenangkan mekanisme pertahanan biologis, dan mencegahnya mengkompensasi secara berlebihan.

Selain itu, studi yang berjudul Basis Seluler Regenerasi Jaringan oleh Omentum juga menyinggung tenytang sel induk mesenchymal, yakni sel khusus yang ditemukan dalam lemak perut, dan dapat memperbaiki jaringan begitu cepat sehingga, seseorang bahkan tidak pernah melihat adanya kerusakan di awal.

Empat, potensi pemulihan tubuh yang cepat.

Jika beberapa kuman atau infeksi berhasil melewati benteng pertahanan tubuh, maka lemak akan maju untuk menyelamatkan sekali lagi ketika saatnya pulih.

“Ketika Anda sakit, tubuh Anda mungkin membutuhkan lebih banyak energi untuk sembuh dengan baik,” kata Brian Kit, seorang dokter anak kenamaan di Inggris.

“Sampai batas tertentu, lemak ekstra dapat memberikan dorongan penting sehingga Anda dapat kembali pulih dengan lebih cepat,” lanjutnya.

Kit mencatat bahwa jaringan lemak, serta hormon yang dilepaskannya, meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh dengan menyediakan cadangan energi vital dan agen antiinflamasi.

Akibatnya, meskipun orang bertubuh gemuk lebih rentan terhadap masalah kesehatan yang serius, namun akan lebih jauh dari risiko kematian dibandingkan pengidap kondisi serupa dengan BMI yang kurang.

Penyakit jantung, misalnya, empat kali lebih mungkin untuk menyudahi kehidupan seseorang dengan BMI ‘sehat’ daripada individu yang dianggap kelebihan berat badan, jelas kaki. *

(sumber: liputan6.com)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed