by

Bagaimana Membedakan Kebutuhan dan Keinginan?

Antara keinginan dan kebutuhan merupakan dua hal yang sering susah dibedakan. Tidak ada masalah jika memiliki berbagai keinginan. Namun, jika keinginan pada akhirnya membuat kehidupan dipenuhi oleh utang, maka langkah nyata harus kita ambil untuk menyelamatkan keuangan.

Berikut trik yang dapat diikuti dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan seperti dilansir dari laman pribadi Prita Ghozie, Jakarta, Minggu (9/8/2020),

Pertama, pahami apa kebutuhan dan keinginan keluarga

Setiap keluarga kemungkinan memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Pada dasarnya needs alias kebutuhan adalah hal yang harus dipenuhi agar kehidupan dapat berjalan. Sedangkan, wants alias keinginan adalah hal yang ingin dilakukan, tetapi jika tidak dipenuhi kehidupan tetap dapat berjalan. Contoh sederhana adalah kita butuh makan, tetapi mau makan bakso daging atau steak merupakan keinginan.

Baca juga :  Bright PLN Batam Luncurkan “Cetar”

Kedua, prioritaskan kebutuhan keluarga

Setelah memahami apa saja yang menjadi kebutuhan dalam keluarga, maka rencana pengeluaran sebaiknya didominasi oleh pos-pos tersebut. Prioritas pengeluaran keluarga dapat dimulai dari membayar utang, membayar tagihan rumah tangga, membayar uang sekolah anak, menyisihkan dana darurat, berinvestasi, barulah sisanya dapat digunakan untuk memenuhi berbagai keinginan.

Jika keinginan membutuhkan dana yang besar, maka ada dua alternative untuk mencapainya. Pertama, dengan bantuan menyisihkan secara berkala sebagian dari penghasilan atau gaji kedalam rekening khusus untuk mewujudkan impian. Kedua, dengan menunggu datangnya penghasilan non-rutin seperti bonus atau hadiah.

Baca juga :  Pulau Penyengat akan Ditetapkan Sebagai Destinasi Wisata

Ketiga, bedakan rekening untuk kebutuhan dan keinginan

Cara termudah agar kebutuhan hidup tetap dapat terpenuhi tanpa berutang adalah dengan menggunakan bantuan pemisahan rekening tabungan untuk 3 keperluan di rumah tangga.

“Saya membaginya dengan konsep Living (kebutuhan), Saving (cadangan dan investasi), serta Playing (keinginan). Tentu saja pembagiannya harus lebih besar di pos Living dibandingkan pos Playing. Secara umum, saran saya adalah membagi gaji menjadi 50% untuk Living, 30% untuk Saving, dan 20% untuk Playing,” ungkap Prita.

Baca juga :  SSB BP Batam Peringkat 3

Pembayaran cicilan rumah tinggal menjadi bagian dari pos Saving, karena pada akhirnya rumah tinggal akan menjadi aset dalam keluarga.

Keempat, batasi akses kepada godaan keinginan

Kemudahan akses media sosial memang memiliki ekses yaitu perilaku kita yang cenderung menjadi lebih konsumtif. Cara termudah adalah batasi following akun-akun toko online. Jika tidak, maka alternatifnya adalah hanya menggunakan transfer dan kartu debit untuk berbelanja. Jika belum dapat menahan hasrat belanja, setidaknya kita tidak berutang untuk membelinya.*

(sumber: okezone.com)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed