by

Ekonomi Kepri Dinilai Mulai Membaik

Batam (netrakepri.com) – Bank Indonesia (BI) menilai ekonomi Provinsi Kepri mulai membaik seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi yang tercatat mencapai 5,38 persen (yoy) pada triwulan IV-2018.

“Pertumbuhan ekonomi jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi di kwartal IV-2018 adalah yang tertinggi dalam dua tahun terakhir,” kata Kepala Perwakilan BI Kepri, Gusti Raizal Eka Putra.

Peningkatan ekonomi Kepri pada kwartal IV itu mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun secara keseluruhan, yang tercatat 4,56 persen (yoy). Pertumbuhan ekonomi tahunan 2018, juga meningkat relatif tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, yang hanya sekitar dua persen (yoy).

“Meski begitu, belum bisa mengejar pertumbuhan pada 2014-2015 yang mencapai enam persen (yoy),” kata Gusti seperti dilansir antarakepri.com, Senin (25/2/2019).

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Kepri triwulan IV-2018 ditopang konsumsi rumah tangga yang menguat, serta membaiknya kinerja net ekspor.

BI mencatat konsumsi rumah tangga di kwartal IV-2018 tumbuh 4,57 persen (yoy), menguat dibanding triwulan sebelumnya, yang 3,77 persen (yoy).

“Salah satunya bersumber dari meningkatnya komsumsi masyarakat pada perayaan Hari Raya Natal dan libur jelang tahun baru,” kata Gusti.

Kinerja net ekspor Kepri ditopang membaiknya pertumbuhan total pengiriman barang ke luar negeri, seiring melemahnya impor.

Sedangkan dari sisi lapangan usaha, ekonomi Kepri didukung sektor pengolahan, pertambangan, penggalian, dan perdagangan.

BI mencatat industri pengolahan pada triwulan IV-2018 tumbuh 4,8 persen (yoy), pertambangan dan penggalian 7,7 persen, dan perdagangan menguat 7,43 persen (yoy).

Sementara kinerja pembentukan modal tetap bruto atau investasi pada triwulan IV-2018 tumbuh tinggi, namun pertumbuhannya melambat menjadi 10,23 persen (yoy) dibandingan triwulan sebelumnya yang tumbuh 11,16 persen (yoy).

Sebaliknya kinerja pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan tertahan oleh perlambatan pertumbuhan konsumsi pemerintah dari 0,34 persen pada triwulan III-2018 menjadi 0,15 persen (yoy) pada triwulan IV-2018.

“Ini disebabkan oleh realisasi belanja pemerintah tanpa memasukkan komponen belanja modal, pada akhir 2018 lebih rendah,” kata dia. (ant)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed