by

Kapan Pariwisata RI Pulih?

Sektor pariwisata domestik diperkirakan akan baru mulai pulih tahun depan meski pemerintah sudah mulai melonggarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah.

Demikian dikatakan Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk yang juga Kepala Departemen Industri dan Riset Regional Bank Mandiri, Dendi Ramdani.

Dia menuturkan proyeksi dibuat berdasar hasil riset Google Asia Pacific (APAC) yang dirangkum perseroan. Hasil riset tersebut menyebutkan mayoritas warga Indonesia, atau 44 persen lebih yakin melakukan perjalanan wisata domestik lagi, lebih dari satu tahun dari sekarang.

Baca juga :  Maret 2020, Susi Air Akan Layani Rute Tanjungpinang-Tambelan

Lalu, 17 persen menyatakan akan berwisata dalam 3 bulan ke depan. Kemudian 14 persen mengaku akan berwisata pada 3-6 bulan dan 9-1 tahun ke depan. Survei Google APAC tersebut dilakukan pada Mei 2020.

“Jadi relatif kecil relatif kecil harapan orang mau traveling dalam negeri. Tentu ini implikasinya kepada sektor pariwisata dan ekosistemnya, seperti hotel, restoran dan transportasi,” ujarnya dalam Economic Outlook Bank Mandiri, Rabu (17/6).

Baca juga :  Banyak Peluang Usaha di Tengah Pandemi

Masih dari sumber riset yang sama, agar mau melakukan perjalanan wisata dalam tiga bulan ke depan, masyarakat mengaku menginginkan diskon sebesar 25 persen untuk tiket pesawat. Mereka juga mengharapkan diskon 25 persen untuk hotel. Selain itu, mereka juga menginginkan kebersihan sesuai dengan protokol kesehatan.

Pandemi Covid-19 telah menekan angka wisatawan di Indonesia. Tak hanya wisatawan dalam negeri, wisatawan mancanegara (wisman) juga turut berkurang.

BPS mencatat wisman pada April hanya sebanyak 160 ribu orang, dari sebelumnya sebanyak 471 ribu oran di Maret. Tak hanya pariwisata, ia menuturkan sejumlah sektor diprediksi baru mulai bangkit tahun depan.

Baca juga :  Pesawat Wings Air Mendarat Mulus di Bandara Dabo

Sebab, di tengah ketidakpastian akibat Covid-19, masyarakat cenderung memilih memenuhi kebutuhan dasar serta menunda pengeluaran untuk kebutuhan tersier.

“Pakaian dan sepatu, elektronik, mobil juga, bahkan mungkin pertengahan tahun depan. Kalau properti apalagi, bahkan mungkin lebih lama, menunggu semuanya safe,” imbuhnya.*

(sumber: cnnindonesia.com)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed