by

LKP Maitreyawira Canangkan Perencanaan, Pengorganisasian dan Memilah Sampah

Batam (netrakepri.com) – Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Maitreyawira kini tengah mencanangkan Perencanaan, Pengorganisasian, dan Memilah Sampah yang ada di sekolah tersebut. Rugianto L, Kepala LKP Maitreyawira, kepada netra kepri.com, Selasa (24/7/2018) mengungkapkan, sebelumnya di sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Pancaran Maitri itu memiliki sejumlah tong sampah.

“Kita punya Gedung A untuk SD, Gedung B untuk SMA dan SMK, dan Gedung C untuk SMP. Di gedung-gedung ini dulu ada sejumlah tong sampah. Kini, kita sediakan dua tong sampah saja, yakni untuk sampah daur ulang dan sampah umum,” ucap Rugianto yang biasa disapa Yanto.

Untuk sampah basah, lanjut Yanto, hanya ditempatkan di kantin sekolah tersebut. “Kenapa di satu tempat itu? Karena kita ingin mengolahnya menjadi kompos yang akan dibawa ke Pulau Kebahagian di Barelang untuk tanaman yang ada di pulau tersebut,” papar Yanto.

Dalam perbincangan itu, dia mengatakan, pihaknya menerapkan, makanan yang dibawa atau yang dimakan harus habis.

“Namun, tidak menutup kemungkinan ada makanan yang jatuh. Makanan ini yang ditempatkan di kantin. Dan kita olah jadi kompos. Program ini sudah berjalan dengan baik,” terangnya lagi.

Kini, ucap Yanto, pihaknya mencanangkan untuk mengelola sampah daur ulang dan sampah umum. “Program Ini sesuai dengan yang dicanangkan pemerintah yakni zero waste 2020. Kami memulainya dari lingkungan sekolah terlebih dahulu,” ujarnya melanjutkan.

Salah satu cara pertama yang akan dilakukan adalah mengurangi atau bahkan menghilangkan sampah plastik.

“Kita tahu, plastik ini tidak bisa terurai dalam waktu singkat. Rasanya tak enak juga kita mendapat predikat sebagai salah satu penghasil sampah plastik di dunia. Untuk itu, kami memulainya dari lingkungan sekolah,” ucapnya menerangkan.

Untuk mengurangi plastik-plastik, menurut Yanto, pihaknya akan menggantinya dengan Telobet yaitu plastik dari singkong yang diproduksi di Tangerang yang dibuat oleh orang Bali.

“Keunggulan plastik ini, bisa terurai dalam waktu 21 hari. Jika kena air, dia bisa larut. Larutan itu bisa dijadikan kompos. Jelas sangat ramah lingkungan. Inilah yang menjadi program utama kami di Sekolah Maitreyawira,” ungkapnya lagi.

Saat ditanya apakah program yang dilakukan itu menggandeng pihak lain, Rugianto mengatakan, sekarang pihaknya masih melakukannya untuk internal Maitreyawira saja.

“Jika program di lingkungan sekolah berhasil, maka kami akan lanjutkan ke Vihara, karena sekolah ini berada dalam lingkungan Vihara Maitreyawira. Dan apabila juga berhasil, maka program ini akan kami sosialisasikan dan terapkan di lingkungan sekitar sekolah. Penerapan program dijalankan bertahap. Kita akan gugah masyarakat untuk lebih mencintai lingkungan dengan program yang ramah lingkungan,” tuturnya lagi.

Selain program itu, Rugianto mengatakan, pihaknya juga akan membuat bank sampah. “Program ini kami wujudkan dalam bentuk penjualan barang-barang daur ulang. Atau barang-barang daur ulang itu bisa dibarter dengan barang-barang kebutuhan harian. Program ini pernah dilakukan di Surabaya. Kalau di situ, barang daur ulang bisa ditukar dengan tiket naik bus. Bukankah itu sebuah program yang saling menguntungkan?” ucapnya lagi.

“Kalau kita mendengar kata sampah, ada kesan kurang enak. Kita tentu tidak ingin tempat tinggal kita dan bumi ini dipenuhi sampah. Karena itu, kepedulian kita terhadap sampah meski dikedepankan,” papar yanto.

Selanjutnya, pihaknya juga akan menjalankan program Duta Lingkungan. “Program ini dibuat mewakili dari berbagai tingkat, mulai dari guru. Duta-duta inilah yang diharapkan menjadi perpanjangan tangan program utama kita di sekolah Maitreyawira. Duta-duta itu bisa melakukan sosialisasi, promosi, tentang program ini kepada anak-anak, para orang tua, dan lingkungan sekolah.”

Program kepedulian lingkungan, ujar Yanto, harus dikerjakan bersama-sama. “Sekarang tong-tong sampah sudah kami kurangi, yang secara otomatis sampah-sampah plastik juga berkurang. Kini, saya tengah melakukan evaluasi terhadap program yang telah dijalankan, dimana letak kelemahan dan kekurangannya. Termasuk mempelajari persoalan apa yang terjadi di lapangan.”

“Harapan saya, program ini bisa meningkatkan kepedulian kita terhadap lingkungan. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi? Saya berharap ketika guru memberi contoh yang baik terhadap anak muridnya, maka si anak akan bisa mempraktikan dan mencontohkan juga pada keluarga dan lingkungannya,” pungkas Rugianto. (r)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed