by

“Mari Jaga Iklim Investasi di Batam”

Batam (netrakepri.com) – “Peraturan yang mengatur tentang Upah Minimum Sektoral (UMS) yaitu PP 78 tahun 2015 pasal 49 ayat 1, bahwa Gubernur dapat menetapkan upah minimum sektoral provinsi atau kota/kabupaten berdasarkan hasil kesepakatan asosiasi pengusaha dengan serikat pekerja/buruh pada sektor yang bersangkutan. Inilah aturan yang berlaku saat untuk penetapan UMS saat ini. Jadi, kami mengharapkan semua pihak bisa menaati aturan tersebut.” Hal itu disampaikan OK Simatupang, Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri dan Wakil Ketua Komite Tetap Pengembangan Kawasan Berikat dan Kawasan Perdagangan Bebas, Kadin Indonesia.

Dikatakannya, kalau semua ingin Batam maju dan ekonomi tumbuh 7% pada 2019, mari bersama-sama menjaga iklim investasi yang kondusif.

“Coba kita simak sejak 2010, kenapa perusahaan-perusahaan keluar dari Batam. Salah satu faktornya adalah iklim investasi yang tidak kondusif pada saat itu dengan adanya demo-demo yang mendesak kenaikan upah sekitar 45% pada 2013 dari Rp.1.402.000 menjadi Rp.2.040.000. Sementara itu di satu sisi, negara–negara saingan Batam seperti Vietnam, Laos, Myanmar, Pilipina, Kamboja dan Malaysia gencar-gencarnya membuka Kawasan industri dengan menawarkan insentif yang tiap tahun semakin menarik. Dan investor asing senang di negara-negara tersebut tidak membenarkan adanya aksi demo,” ucapnya seperti keterangan pers yang diterima netrakepri.com, Jumat (27/4/2018).

Dijelaskan OK Simatupang, upah di negara-negara tersebut kini lebih kompetitif daripada di Batam.

“Di Malaysia misalnya, upah saat ini Rp.3.5470.000 (1.000 ringgit), Laos sebesar Rp2.000.000 (1.2jt kip), Vietnam Rp2.415.000 (3.980.000 dong), Myamar Rp1.500.000 (144 kyat), Filipina Rp2.500.000 (9300 peso), dan Kamboja Rp2.150.000 (630.000 riel). Negara-negara tersebut menerapkan sistim kerja 48 jam per minggu sedangkan kita dengan sistim 40jam/minggu,” tambahnya lagi.

“Kita tahu jika perusahaan PMA di Batam ini juga memiliki plant manufacture dengan bidang usaha yang sejenis di negara-negara tersebut diatas. Artinya apa? Hanya Plant Manufacture yang produktif sajalah yang akan dipertahankan atau dikembangkan oleh perusahaan induk nya. Lalu bagimana nasib perusahaan yang sudah tidak produktif lagi? Ya, secara perlahan-lahan, mereka akan memindahkan operasionalnya ke negara-negara yang menurut mereka lebih kondusif, produktif, dan nyaman untuk berinvestasi,” lanjutnya.

“Ini perlu kita jaga dan pahami bersama,” pungkasnya. (r)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed