by

Menikmati Cantiknya Alam Bintan lewat Tour de Bintan 2019

Gelaran terakhir Tour de Bintan 2019 benar-benar mampu membuat ratusan peserta dapat menikmati indahnya alam Bintan. Rute yang ditempuh yakni menjelajah kawasan Bintan Lagoon Resort, dengan titik start dan finish di Bintan Lagoi. Meski demikian, para peserta tetap serius berlomba di kelas Grand Fondo Country dan Grand Fondo Discovery. Jarak tempuh masing-masing 108 Km dan 55 Km, Minggu (31/3).

Pada kelas GF Country, peserta benar-benar diajak menjelajah alam Bintan dengan segala kekhasannya. Hutan-hutan kecil dengan hamparan belukar, sedikit perkebunan karet di beberapa titik, serta kelok sungai air payau yang tampak tenang berpagar mangrove.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar, Rizki Handayani, menyatakan, ada beberapa hal menarik yang bisa dinikmati peserta, salah satunya gurun pasir dan telaga biru di Desa Busung, Kecamatan Sri Koala Lobab. Destinasi nomadic ini sebenarnya adalah kawasan pertambangan bauksit yang disulap dan dimanfaatkan warga setempat, sehingga menarik untuk dikunjungi.

“Kawasan pertambangan ini demikian luas, sehingga tampak seperti gurun pasir di Timur Tengah. Apalagi, pengelola juga menghadirkan karakter onta dan kuda, sehingga menjadi spot foto favorit bagi pengunjung,” ujarnya.

Untuk mendapatkan keseruan foto dengan karakter onta, pengunjung lokal dikenakan tarif Rp5000/ orang. Sementara bagi turis asing, biasanya diminta Rp10.000/ orang. Pengunjung tidak akan keberatan, terlebih bagi para millenial yang terbiasa update foto di media sosial. Mengabadikan moment-moment di tempat ini, bisa juga dianggap sebagai pemenuhan selera kekinian.

Asdep Bidang Pemasaran I Regional I Kemenpar, Dessy Ruhati, menambahkan, gurun pasir berada di satu kawasan dengan telaga biru. Keduanya sama-sama terbentuk tanpa sengaja dari aktivitas pertambangan. Penduduk lokal menyebut, awalnya yang tertampung di bekas galian hanyalah air hujan yang mengendap, berlumut, hingga akhirnya menciptakan gradasi warna hijau.

“Untuk telaga biru, pengelola juga sudah menyiapkan jembatan kayu yg menjorok ke tengah sebagai spot shelfie, termasuk sepeda air dengan karakter bebek-bebekan. Fasilitas lain, tentunya ada warung-warung kecil sebagai tempat rehat atau sekadar membeli minum,” ucapnya.

Menteri Pariwisata, Arief Yahya, mengatakan, nomadic tourism adalah gaya berwisata baru di mana wisatawan dapat menetap dalam kurun waktu tertentu di suatu destinasi wisata dengan amenitas yang portable dan dapat berpindah-pindah. Selain itu, gaya berwisata ini pun sangat cocok bagi suatu destinasi wisata yang sangat potensial namun daya dukung amenitas masih rendah.

“Yang dimaksud nomadic tourism adalah wisata temporer baik akses maupun amenitasnya yang akan diterapkan untuk menjangkau destinasi alam potensial di kepulauan. Nomadic tourism terhitung mudah dan murah. Hanya perlu ada atraksi pariwisata yang menarik, maka pengadaan akses dan amenitas bisa dilakukan dengan menggunakan bahan baku yang bisa dipindah,” ungkapnya. *

(sumber:liputan6.com)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed