Baca juga :  City Taklukkan Schalke 3-2

Progres dari BLE, pertama dari sisi infrastruktur, BP Batam selaku pengelola dari Pelabuhan Batu Ampar telah menyiapkan Autogate System dan softwarenya telah dilakukan UAT User Acceptance Testing dengan menggandeng PBM (Perusahaan Bongkar Muat). Dari sisi kepabeanan, Bea dan Cukai Batam mendukung dari sisi layanan STS-FSU yang berhubungan dengan entitas kementerian terkait, serta TPS online akan semakin memudahkan pelaku usaha.

Prof. Dr. Marsetio, dalam rapat kerja BLE ini menyampaikan harapan besar bahwa Batam melalui BLE sebagai percontohan nasional akan mengubah paradigma Batam sebagai tujuan kawasan investasi yang kompetitif.

“Batam yang maju hanya dapat berhasil apabila Batam memiliki perubahan paradigma investasi yang ditunggu oleh publik. Batam Logistic Ecosystem akan mengubah paradigmanya,” ujarnya.

Batam didukung dengan sistem BLE dan NLE merupakan satu platform rantai pasok barang yang mengakomodasi mulai dari hulu hingga hilir, dan mempertemukan entitas pemerintah dan entitas bisnis, atau skema G to G, G to B, dan B to B.

Baca juga :  Kadisbudpar Batam Kenalkan Museum Batam Raja Ali Haji Pada Pemandu Wisata

Sistem ini akan memutus mata rantai birokrasi layanan logistik dan membuka informasi layanan kepada publik seluas-luasnya yang pada akhirnya akan menurunkan biaya logistik.

Selain evaluasi progres dan implementasi BLE, Prof. Dr. Marsetio, juga menekankan persoalan tarif. Ia mengapresiasi komitmen yang dilakukan BP Batam untuk melakukan penyesuaian tarif sehingga Batam mampu berdaya saing.

“Jadi sesuai dengan arahan Bapak Menko serta Pak Menko Perekonomian juga, kita harapkan ada perubahan paradigma besar soal tarif. Kalau tarif tidak turun investasi tak mau dateng, karena kalau di Batam, investasi kan ada pilihan [Singapura dan Malaysia],” katanya lagi.

Usai pembahasan rapat, dirinya mengungkapkan apresiasi atas komitmen besar dari BP Batam untuk melakukan penyesuaian tarif.

“Hari ini saya lihat progres yang sangat luar biasa dipaparkan perubahan dan komitmen tarif. Saya lihat ada semangatnya spiritnya uda berubah. Kita patut optimis target pemerintah akan tercapai,” sambungnya.

Dirinya menjabarkan lebih lanjut bahwa kondisi hari ini adalah efisiensi logistic cost masih lebih mahal 23% dari 100%, bila dibandingkan dengan Singapura yang berada di angka 13%. Adapun target pemerintah pada tahun depan adalah turun menjadi 17%. Dengan dibentuk sistem NLE dan BLE untuk Batam serta penurunan tarif yang telah disesuaikan BP Batam, maka ia optimis Batam mampu mengejar ketertinggalan.

Baca juga :  Uniba Gelar Seminar Nasional Penulisan dan Publikasi Jurnal Internasional Bereputasi

“Kita pake sistem dan tarif kita benahi. Tarif sekarang uda lebih murah dan disesuaikan. Nanti pelabuhan-pelabuhan di kita (Indonesia) akan direct call tak ke negara tetangga, tapi direct ke Batam. Selamat BP Batam, Batam mau berubah. Setelah ini nanti akan ditiru oleh Kepri,” pungkasnya.

Agenda dilanjutkan dengan peninjauan Auto Gate System secara langsung di Pelabuhan Batu Ampar dan pertemuan dengan para asosiasi industri kemaritiman di Batam seperti INSA, ISAA, APBMI dan ATAK Kepabeanan.

Adapun hasil pertemuan dengan para asosiasi ini menghasilkan reformasi perubahan tarif kepelabuhanan di BP Batam seperti penurunan tarif labuh STS dan FSU yang mendapat insentif potongan harga, selanjutnya untuk tarif yacht, pimpinan BP Batam akan menyesuaikan tarif agar lebih bersaing dengan tempat lain.

BP Batam berkomitmen untuk mewujudkan tarif kepelabuhanan di Batam yang kompetitif dibandingkan dengan tarif kawasan sejenis di negara lain, kemudian membuat kajian dan mengevaluasi penerapan tarif yang sudah berlaku saat ini. (r)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed